Rabu, 30 Mei 2012


Integrating Innovation into Enterprise Architecture
A Paper by Michael Rohloff 



Integrating Innovation into Enterprise Architecture
A Paper by Michael Rohloff

Inovasi adalah sebuah poses kreatifitas dan kemampuan untuk mengimplementasin kreatifitas tersebut untuk mencapai kesuksesan. Dalam organisasi, kemampuan organisasi untuk berinovasi diakui sebagai sebuah kapabilitas penting untuk berkompotisi pada market yang kompetitif. Bentuk-bentuk inovasi yang dilakukan pun terdapat dalam berbagai dimensi baik dimensi teknologi maupun dimensi organisasi. Pengembangkan inovasi dapat dilakukan dengan tidak hanya menyediakan suasana lingkungan yang kreatif tetapi juga dengan menyediakan landasan pengimplementasian dan kesuksesan inovasi tersebut pada market organisasi. Oleh karena itu, penyediaan kreatifitas dan kebebasan merupakan hal penting yang harus dilengkapi dengan pendekatan sistemastis untuk pengembangan dan pensuksesan ide-ide inovatif tersebut.
Enterprise Architecture Management (EAM) terdiri dari keseluruhan bisnis dan segala untur-unsur yang terkait. Enterprise Architecture Management (EAM) tidak hanya mencakup semua dimensi inovasi organisasi tetapi juga mencakup desain arsitektur enterprise dengan pendekatan sistematik. Perspektif baru terbentuk melalui EAM yang merupakan perluasan dari desain arsitektur bisnis, dan tidak terbatas hanya pada arsitektur IT, dan pembangungan seluruh organisasi dalam skala yang besar. Beberapa tujuan dari EAM antara lain :
·         Penyelarasan bisnis/TI dan peningkatan TI
·         Pengelolaan, perencanaan dan pengontrolan program infformasi dan komunikasi dan pemenuhan aturan dan standar
·         Penyediaan skalabilitas, pertumbuhan dan adaptabilitas
·         Tranparansi dari building blocks arsitektur (organisasi, proses dan teknologi) dan komunikasi stakeholder yang lebih baik
Dari berbagai penggunaan EAM pada organisasi, peningkatan inovasi merupakan salah satu  potensi yang belum banyak digunakan oleh organisasi. EAM seringkali hanya dilihat sebagai proyek TI yang berfokus pada implementasi teknologi dan bukan sebagai isu bisnis yang dapat digunakan untuk merancang dan melakukan inovasi pada seluruh aspek organisasi. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, diberikan sebuah usulan untuk menggunakan EAM sebagai pendekatan sistematis untuk melakukan inovasi pada perusahaan.
Terdapat berbagai framework yang digunakan untuk membangun EAM. Dari berbagai framework arsiterktur seperti  FEAF, GERAM, Gartner and META Group Enterprise Architecture Frameworks, dan  Zachman Framework, TOGAF merupakan  framework yang dikenal secara luas dan memiliki peran yang dominan. TOGAF menyediakan metode dan alat bantu untuk membantu dalam pembuatan, penggunaan dan pengelolaan EA. TOGAF dibuat berdasarkan model proses iteratif yang didukung oleh best practices dan penggunaan kembali sekelompok aset arsitektur yang telah ada. Konsep utama dari TOGAF ialah The Architecture Development Method (ADM) yang menyediakan proses berulang yang telah teruji untuk pembangunan arsitektur . TOGAF terdiri dari 4 domain arsitektur: strategi bisis, pengelolaan, organisasi dan bisnis proses utama.

Sebuah framework diusulkan untuk memberikan gambaran komprehensive mengenai EA. Berbeda dengan TOGAF, The Enterprise Architecture Triangle merupakan framework yang  memisahkan domain bisnis dan arsitektur TI secara jelas dengan menyediakan pemisahan deskripsi business-oriented enterprise arsitektur dan implementasi teknologi yang berasal dari arsitektur tersebut.  Arsitektur informasi tidak dideskripsikan sebagai domain arsitektur terpisah tetapi terbagi dalam building block  arsitektur bisnis pada struktur informasi logical, building block arsitektur aplikasi pada implementasi repositori data. Framework ini merinci domain arsitektur building block untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai unsur-unsur pokok enterprise arsitektur. Framework ini terbagi menjadi tiga domain dasar yang menyatakan building blocks arsitektur.


Enterprise Architecture method and artifacts
Arsitektur TI selalu dilihat sebagai penyedia layanan untuk bisnis seperti aplikasi pendukung proses bisnis, layanan kantor dan komunikasi untuk mendukung setiap individu karyawan yang menyebabkan nilai tambah dari TI menjadi fokus organisasi. Oleh karena itu,  building blocks dari framework arsitektur terstruktur menjadi grup layanan, inti layanan, dan modul layanan. Enterprise Architecture tidak hanya berisi koleksi unsur arsitektur tetapi juga menggambarkan hubungan antara unsur-unsur tersebut dan keterkaitannya. Blueprints dikenalkan untuk  rancangan untuk pembangunan arsitektur dalam skala besar. Blueprint memberikan tampilan komprehensif mengenai building blocks dan interaksi antar building blocks tersebut dalam sebuah matriks bisnis dua dimensi. Tipe blueprint yang berbeda dapat dibuat bergantung pada keterkaitan arsitektur aplikasi, TI dan infrastruktur atau building block yang menjadi fokus. Dimensi matriks juga dapat dipilih dengan level detail yang berbeda beda.
Landscape
First Dimension
Second Dimension
application landscape
Business process
How it is supported by applications
deployment in organizational units
data repository landscape
Deployment with databases
How the support defined information
clusters of the information architecture
deployment of the databases
in organizational units
service landscape
Deployment of infrastructure services
and the support of applications
deployment in organizational
units

Setiap domain enterprise arsitektur (EA)  dapat dideskripsikan dengan menggunakan tampilan yag memuat arsitektur, struktur dan elemen dari sudut pandang khusus. 3 tampilan utama diidentifikasi untuk mendeskripsikan seluruh aspek terkait EA.
·         Component view: menyediakan perspektif yang menjelaskan struktur logis dan fungsional dalam lingkup arsitektur.
·         Communication view: menyediakan perpektif yang menjelaskan interaksi yang terjadi antara sistem dan komponen.
·         Distribution view: menyediakan perspektif yang menjelaskan struktur alokasi sistem atau komponen dalam lingkup geografis atau distribusi organisasi.

EA dapat dilihat sebagai change agent. Fungsi utama dari EA memiliki potensi tinggi untuk digunakan dalam berinovasi dalam bisnis, antara lain:
·         Berisi gambaran komprehensif yang memuat seluruh building blocks
·         Tertuju pada seluruh dimensi inovasi organisasi\
·         Menyediakan transparansi building blocks dan kaitannya, dan mempermudah komunikasi antar stakeholders
·         Menyediakan pendekatan sistematis dan terstruktur mengenai rancangan organisasi


Berdasarkan potensi EAM dalam inovasi maka berikut diajukan fungsi-fungsi yang dapat meningkatkan potensi tersebut untuk :
·         pendekatan sistematik terhadap inovasi
·         mengintegrasikan brainstroming kreatif dengan desain inovatif
·         membuka inovasi untuk desain arsitektur


Prinsip-prinsip yang mengarahkan desain proses:
·         Batasan temasuk business engineering tidak hanya terbatas pada arsitektur TI
·         Proses komprehensif dari visi hingga implementasi meliputi keseluruhan bisnis
·         Keterlibatan yang seimbang antara orang-orang dari bisnis dan orang-orang dari TI. Keseluruhan organisasi proyek harus merupakan sebuah perpaduan antara orang-orang dari sisi bisnis dan orang-orang dari sisi TI
§  architecture team :
§  steering committee
§  Architecture review board
·         Program management


Minggu, 27 Mei 2012


How Does Enterprise Architecture Add Value to Organizations?
A Paper by Toomas Tamm, Peter B. Seddon, Graeme Shanks, and Peter Reynolds

Aplikasi Enterprise merupakan tampilan high-level  yang merepresentasikan proses bisnis dan hubungan sistem TI yang digunakan pada seluruh area perusahaan. Enterprise Architeture (EA) berfungsi mendefinisikan EA yang diingin diimplementasikan di masa depan dan berfungsi menyediakan langkah yang ditempuh untuk mencapai kondisi EA yang diharapkan dari kondisi EA yang telah ada.

Dilatar belakangi berbagai pertanyaan mengenai EA, sebuah studi kasus dilakukan untuk mengetahui manfaat dan nilai tambah yang diberikan EA terhadap suatu organisasi. Berbagai pertanyaan yang ingin diketahui dari penelitian antara lain apakah EA memiliki manfaat bagi organisasi, apakah mekanisme yang harus dilaksanakan untuk mendapatkan manfaat tersebut, EA seperti apa yang dapat memberikan manfaat bagi organisasi, bukti apa yang dapat mendukung ekspektasi manfaat tersebut, dan apakah manfaat potensial yang dimiliki oleh EA. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur dan mencari penelitian yang relevan dengan EA. Sumber literatur yang digunakan antara lain Google Scholar dengan hasil pencarian sebanyak 4639 paper dan Scopus dengan hasil pencarian sebanyak 440 paper. Dari 4809 paper yang didapat dilakukan  filtering lebih lanjut sehingga dihasilkan 50 paper untuk diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap 50 paper yang ditentukan, diketahui bahwa manfaat-manfaat EA yang diterima oleh perusahaan antara lain pengurangan biaya, peningkatan kapabilitas untuk perubahan, peningkatan kesesuaian TI-bisnis dan peningkatan proses bisnis. Selain itu dari hasil analisis yang dilakukan juga diketahui bagaimana EA berdampak pada manfaat yang diterima organisasi. 
Berdasarkan data-data yang didapatkan, maka dibuat suatu model manfaat EA yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas dari EA dengan cara mengevaluasi kualitas dokumentasi EA dan mengukur proses perencanaan EA.




Organizational Alignment menggambarkan sejauh mana sub-unit organisasi berbagi pemahaman yang sama mengenai strategic goals organisasi dan  berkontribusi untuk meraih goals tersebut. Organizational Alignment membantu organisasi dalam meningkatkan performa organisasi dan meningkatkan ROI dengan pengurangan duplikasi. EA membantu dalam meningkatkan organizational alignment dengan mengurangi subjektivitas dalam proses pengambilan keputusan dan mengarahkan keputusan lebih dekat pada bisnis goals.
Salah satu hal yang juga menjadi manfaat EA ialah meningkatkan ketersediaan informasi.  Ketersediaan informasi menggambarkan luas dan berkualitasnya informasi yang dapat diakses oleh para pembuat keputusan organisasi. Dengan adanya EA maka analisis sistenm dalam perencanaan EA dapat mengumpulkan informasi-informasi mengenai proses dalam organisasi yang tidak terdokumentasi.
Resource Portfolio Optimization merupakan tingkat pemanfaatan sumber daya yang telah ada pada organisasi, berinvestasi pada sumber daya yang menjadi target pada performance gaps, dan meminimalisasi investasi yang tidak dibutuhkan pada duplikasi sumber daya. EA membantu dalam mengoptimisasikan portofolio sumber daya dengan cara membantu identifikasi resource gaps/overlaps dan menyediakan rekomendasi untuk meningkatan kondisi yang sudah ada. Dengan optimisasi portofolio sumber daya maka organisasi dapat mendapatkan manfaat berupa pengurangan biaya dan tingkat efisiensi yang lebih tinggi yang berdampak pada peningkatan ROI.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan EA dan nilai potensial EA dapat mempengaruhi manfaat EA yang diterima organisasi. Faktor-faktor tersebut antara lain :
·         Kompleksitas lingkungan TI 
·         Kualitas dari platform yang telah beroperasi
·         Model operasi organisasi
·         Tingkat perubahan organisasi
·         Legislasi dan regulasi


A Complex Adaptive System Perspective of Enterprise Architecture in Electronic Government
A Paper by Marijn Janssen and George Kuk

Besarnya otonomi yang dimiliki suatu daerah seringkali memiliki dampak yang besar bagi perkembangan daerah tersebut, tidak terkecuali dalam pembangunan sistem informasi. Adanya otonomi daerah membuat proses pengambilan keputusan yang dibuat oleh pemerintah daerah tersebut tidak selalu bergantung pada pemerintah pusat. Hal ini menyebabkan seringkali terjadi ketidak sesuaian antara keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk mengenai pengembangan sistem informasi pemerintah daerah.

Untuk mengatasi permasalahan sinkronisasi pengembangan sistem informasi pada pemerintahan maka dilakukan pendekatan untuk mengalisis dan memahami kebutuhan dan keterbatasan enterpise architecture pada pemerintahan. Selain itu juga dilakukan identifikasi prinsip perancangan arsitektur yang dapat meningkatkan kebersamaan inter-organisasi dan kesuksesan implementasi IT.

Enterprise architechture menspesifikasikan bagaimana teknologi informasi terkait dengan proses bisnis secara keseluruhan dan hasil yang dicapai oleh organisasi. EA digunakan untuk memandu perancangan keputusan dan membatasi ruang lingkup solusi dengan menyusun batasan-batasan. Sedangkan, Complex Adaptive System Theory merupakan sebuah studi terhadap sistem yang dibangun dari agen individu yang memiliki kemampuan beradaptasi satu sama lain serta dapat beradaptasi dengan lingkungan. Sistem CAS beradaptasi dan mengorganisasi dirinya tanpa entitas apapun yang dapat mengelola dan mengawasinya dengan bebas. Fokus CAS terdapat pada kompleksitas dari proses non-desain, interaksi dan hubungan sebagai tambahan sistem.

Sebuah studi kasus dilaksananakan di Belanda dengan melakukan wawanacara terhadap 25 orang responden dan melakukan sampling terhadap 11 proyek e-goverment. Pada studi kasus ini dilakukan analisa terhadap hubungan pemerintah pusat dan daerah, aktor utama yang terlibat dalam pengembangan, logika bisnis dan teknis di belakang pilihan rancangan dan solusi. Pada penelitian ini dilakukan validasi terhadap penelitian website, memo internal, publikasi yang tersedia online, laporan-laporan konsultansi yang terkait.



Pemerintah daerah memiliki tingkat otonomi yang tinggi dalam melakukan pengambilam keputusan dengan tingkat fragmentasi dan keberagaman yang tinggi pada organisasi yang memiliki proses bisnis, aplikasi dan sistem informasi yang berbeda-beda. Pemerintah telah memulai pengembangan EA sejak tahun 1980 sebagai sarana pengaturan dan pembatasan arsitektur diantara kota-kota di Belanda.
Berikut ini terdapat beberapa kebijakan pemerintahan pusat yang direspons oleh pemerintahan daerah.  




Analisis terhadap interaksi dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan daerah dan pemerintah pusat dilakukan dengan menggunakan acuan karaketristik CAS, antara lain :
1.       Emergence: timbul dari interaksi agen dengan pola cara yang acak.
2.      Co-evolution: sistem merupakan bagian dari lingkungan
3.      Sub Optimal: CAS tidak harus sempurna, melainkan cukup pada kondisi baik.
4.      Requisite Variety: semakin banyak variasi, maka sistem akan semakin kuat
5.      Connectivity: hubungan antara agen umumnya lebih penting daripada agen tersebut.
6.      Simple Rules: aturan yang digunakan dalam mengatur fungsi sistem cukup sederhana
7.      Iteration: perubahan kecil pada sistem dapat berdampak signifikan setelah melewati serangkaian loop.
8.      Self-organizing: tidak ada hirarki perintah dan pengawasan pada CAS
9.      Edge of Chaos: Fase paling produktif, variasi dan kretifitas maksimal, menuju pada kemungkinan-kemungkinan baru
10.   Nested Systems: Sistem  merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.

Beberapa peraturan didasarkan pada teori CAS, berdasarkan hasil analisis dari 11 proyek :
·         Prinsip rancangan arsitektural : pernyataan tekstual yang menggambarkan kendala  yang diberlakukan kepada organisasi dan/atau keputusan yang diambil untuk mendukung realisasi strategi bisnis dan dapat digunakan untuk memandu proyek mendatang.
·         Prinsip rancangan arsitektural mencakup 3 hal:
1. Keragaman 
2. Konsentrasi kegiatan
3. Meningkatkan lintas-batas dan
tingkat interaksi 

Senin, 14 Mei 2012


Enterprise Architecture Institutionalization and Assessment
A Paper by Hyunkyung Song and Yeong-Tae Song

Salah satu masalah yang dihadapi industri modern saat ini ialah cara menanggulangi perubahan dunia bisnis dan teknologi informasi yang amat pesat. Perkembangan pesat tersebut tidak sesuai dengan rancangan sistem yang tidak dibuat untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat. Sistem perusahaan yang tidak dirancang untuk menghadapi perubahan tersebut menjadi tidak efisien menyebabkan berbagai kemungkinan terjadinya masalah.

Permasalahan ketidakefektifan arsitektur TI dalam mengatasi perubahan dunia bisnis yang amat pesat membuat para akademisi dan para praktisi pada industri menjadi tertarik untuk  mempelajari Enterprise architecture. Pembelajaran tersebut terutama bertujuan untuk mengubah enterprise architecture yang ada menjadi efisien dan cerdas. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan melakukan proses institutionalisasi EA ke perusahaan berdasarkan framework EA yang telah ditetapkan dengan baik.

Framework EA membantu organisasi dalam membangun  target-conformant  EA yang bersifat fleksibel, adaptif, dan efisien. EA bertujuan untuk dapat digunakan oleh organisasi dalam menampilkan perencanaan strategis dan pembangunan blueprints dari kondisi organisasi di masa depan. Untuk mendapatkan manfaat Framework EA secara maksimal maka menjadi sangat penting untuk melakukan penilaian seberapa baik implementasi EA pada organisasi telah dilakukan berdasarkan framework EA yang telah diberikan.

EA merupakan sebuah alat yang bagus untuk mengitegrasikan dan melakukan penyesuaian antara teknologi informasi dan tujuan bisnis. Namun, tanpa penanganan yang tepat EA tidak akan memiliki manfaat seperti seharusnya, yang berarti framework EA membutuhkan penyesuaian menurut budaya, peratudan dan prosedur yang dimiliki organisasi tersebut. Proses pengimplementasian EA secara spesifik terhadap organisasi tertentu disebut institutionalisasi.
  
Terdapat lima tahapan dalam proses institutionalisasi EA yaitu
1.     Proses Inisiasi
Tahapan ini membantu memastikan ketentuan awal dari proses keseluruhan, juga untuk memvalidasikan apakah investasi TI memenuhi seluruh kebutuhan dan tujuan bisnis. Tahapan ini memiliki beberapa subproses yaitu:
·         Pertanyaan bisnis
·         Penetapan strategi bisnis dan strategi TI
·         Pembentukan Tim EA
2.     Pendefinisian baseline architecture
Tahapan ini merupakan tahapan pendeskripsian keadaan organisasi saat itu. Pendeskripsian organisasi secara tepat merupakan langkah penting untuk institusionalisasi untuk menentukan pengukuran progres organisasi di masa depan terhadap baseline architecture. Pendeskripsian baseline architecture dilakukan dengan mengidentifikasi hidden asset, gap, dan redudansi dari arsitektur yang berbeda.

        
3.     Pendefinisian target architecture
Tahapan ini mendifinisikan target arsitektur bisnis berdasarkan strategi bisnis organisasi. Target arsitektur ini menegaskan visi operasional bisnis dan teknologi pendukung di masa depan. Dalam pendefinisian target arsitektur diperlukan penyesuaian antara strategi dan baseline architecture.
4.     Perencanaan transisi arsitektur
Tahapan ini mendefinisikan proses transisi dari arsitektur saat ini menjadi EA target. Perencanaan transisi mencakup penilaian terhadap teknologi yang digunakan untuk memastikan teknologi yang ada dapat mendukung kapabilitas yang dibutuhkan oleh target EA di masa mendatang. Penilaian tingkat kematangan teknologi tersebut harus dilakukan untuk mensukseskan implementasi target architecture.
5.     Perencanaan implementasi dan operasi
Perencanaan implementasi arsitektur mencakup pengelolaan sumber daya dan pembangunan sistem EA seperti yang ditunjukan pada gambar berikut.


Tahapan ini selanjutnya dapat dibagi menjadi sekumpulan proyek pembangunan sistem. Stakeholders EA harus terlibat dalam mengumpulkan detail rancangan, pembangunan, dan spesifikasi Enterprise Architecture Management System (EAMS).

Institutionalisasi EA merupakan proses iteratif, incremental dan berkelanjutan. Organisasi harus menjalankan kontinuitastersebut dengan melakukan penilaian terhadap EA. Tujuan utama penilaian EA tersebut ialah untuk mendokumentasikan signifikansi EA untuk para pembuat keputusan dan untuk mengidentifikasi pembangunan yang diperlukan oleh EA tersebut.

Penilaian terhadap elemen dan work products EA perlu dilakukan oleh organisasi. Elemen EA yang memerlukan penilaian tersebut antara lain visi, architecture baseline yang digunakan saat itu, definisi target architecture, analisis gap, strategi transisi, implementasi and pengelolaan. Elemen-elemen ini menjadi pengawas utama dalam penilaian Enterprise Architecture.

Berikut merupakan matriks yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian EA berdasarkan elemen-elemen dan empat architectural views -bisnis, data, applikasi, dan teknologi.


Hubungan yang disarankan dapat disesuaikan berdasarkan tampilan arsitektur organisasi. 

A new method for Enterprise Architecture Assessment and Decision-making about Improvement or Redesign
A paper by Mehrshid Javanbakht, Maryam Pourkamali, & Mohammad Reza Feizi

Landasan utama dalam arsitektur organisasi terdiri dari dari misi dan tujuan, fungsi dan proses bisnis, informasi, layanan, dan teknologi. Landasan utama ini menjadi bagian yang penting dalam arsitektur organisasi baik pada as-is architecture maupun to-be architecture. As-is architecture merupakan arsitektur organisasi yang telah ada yang digunakan sebagai dasar dalam pencapaian to-be architecture, tujuan arsitektur organisasi yang ingin diterapkan oleh organisasi. Untuk menghubungkan arsitektur organisasi yang telah ada dan arsitektur organisasi yang ingin dicapai  maka dibuatlah perencanaan transisi untuk melakukan perubahan tersebut.



Arsitektur organisasi dapat selalu berubah menjadi lebih baik sehingga to-be architecture merupakan bagian yang selalu ada dalam arsitektur organisasi. Namun, perubahan yang dilakukan memerlukan waktu, biaya, dan menimbulkan resiko yang memungkinkan kegagalan bisnis. Untuk meminimalisasi hal tersebut diperlukan perencanaan yang baik dalam mengubah arsitektur yang telah ada, as-is architecture menjadi to-be architecture.

Perencanaan tersebut mencakup :
  • Pengukuran kapasisitas dari kondisi arsitektur yang telah diterapkan berdasarkan misi dan tujuan yang ingin dicapai organisasi
  • Cara penentuan keputusan dalam perbaikan arsitektur organisasi ataupun perencanaan ulang arsitektur tersebut.
Pengambilan keputusan yang tidak tepat pada perencanaan dapat menyebabkan waktu dan sumber daya organisasi terbuang sia-sia. Oleh karena itu, diperlukan penentuan aktivitas-aktivitas penting untuk memaksimalkan pemanfaatan waktu yang ada. 

Untuk mengatasi permasalahan dalam transisi as-is architecture menjadi to-be architecture pada organisasi maka Multi-agent architecture diajukan sebagai solusi permasalahan tersebut. Multi-agent architecture menyediakan metode untuk melakukan penilaian kondisi organisasi dan menentukan keputusan yang akurat untuk memperbaiki ataupun melakukan perancangan kembali arsitektur perusahaan berdasarkan misi, tujuan, dan keterbatasan yang dimiliki organisasi.  Multi-agent architecture digunakan untuk meminimalisasi waktu yang digunakan dalam eksekusi metode. Terdapat 4 agen dalam setiap metode yang memiliki tujaun masing-masing. Setiap agen tersebut memiliki sub-agents yaitu : Middleware agent, Rule Comparison agent, Dynamic Analytical agent, Knowledge Discovery dan Management agent.

Tahapan dalam melakukan penilaian dan pembuatan keputusan terdiri dari :

  1. Penyesuaian dari reference model- refence model untuk organisasi umum dengan menggunakan studi kasus.
Dengan menggunakan Architecture reference model yang meliputi detail komponen pada keseluruhan sistem, maka klasifikasi informasi organisasi dapat dilakukan dengan lebih mudah berdasarkan beberapa fakta yaitu banyak dan beragamnyanya komponen, analisis komponen tersebut, dan kebutuhan penilaian, prioritas dan urutan dari setiap komponen.

  1. Penggunaan layer model untuk mengenali hubungan diantara layer-layer pada arsitektur organisasi.
Layer yang digunakan pada arsitektur organiasasi antara lain layer tujuan, objektif, goal, fungsi, layanan dan teknologi. 


  1. Menggunakan pendekatan top-down untuk mempriotisasi implementasi komponen-komponen arsitektur organisasi yang berbeda dan aktivitas-aktivitas terkait.
Setiap komponen pada arsitektur organisasi memiliki keterkaitan, tetapi tidak seluruh komponen tersebut dapat diimplementasikan pada EA dikarenakan keterbatasan dana dan waku yang dibutuhkan untuk komponen tersebut. Oleh karena itu, metode prioritas pembangunan EA menjadi hal yang penting.  Metode prioritas komponen tersebut dilakukan berdasarkan score.

Setiap project memiliki satu atau lebih objektif. Setiap objektif memiliki score yang berbeda-beda dengan jumlah score seluruh objektif bernilai 100. Satu objektif terdapat satu atau lebih goal. Setiap goal memiliki score yang berbeda beda dengan jumlah score seluruh goal bernilai 100. Demikian pula dalam satu goal terdapat satu atau lebih fungsi. Setiap fungsi memiliki score yang berbeda beda dengan jumlah score seluruh fungsi bernilai 100. Begitu pula pada layer layanan dan teknologi. Komponen diurutkan berdasarkan score tertinggi. Semakin tinggi score yang dimiliki, maka akan semakin besar prioritas yang diberikan pada komponen tersebut.



  1. Menggunakan pendekatan bottom-up pada penilaian arsitektur organisasi
Bottom-up penilaian arsitektur organisasi dapat dilakukan dengan cara
·         Melakukan penilaian dari hal kecil untuk membangun hal yang besar
·         Melakukan penilaian hanya pada komponen terpilih dengan prioritas yang besar
·         Mulai dari teknologi ke layanan, layanan ke fungsi, fungsi ke goal, goal ke objektif
·         Menentukan persentase misi organiasai yang telah dipenuhi dengan mengacu pada paper detail teknis.

  1. Komputerisasi dan kalkulasi terkait biaya dan analisis manfaat
Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
       Statistical sampling
Dengan menggunakan pengalaman dari proyek sukses sebelumnya dan pengumpulan informasi  stastik dan metode sampling untuk melakukan perhitungan perkiraan standar. Apabila score yang didapatkan pada proyek lebih besar dari standar maka enterprise architecture akan mendapatkan manfaat bila melakukan peningkatan, apabila tidak maka perancangan kembali enterprise architecture lebih direkomenasikan
       Nearest neighborhood method
Dengan menggunakan strategi “nearest neighborhood” untuk mengimport hasil score dari proyek sukses sebelumnya ke dalam jaringan dan secepatnya mempelajari dan melaporkan kondisi jaringan berdasarkan poin gangguan proyek.

       TOPSIS method
Metode pengambilan keputusan dengan beberapa indikator yang bekerja berdasarkan jarak proyek terbaik dan proyek terburuk dengan menggunakan matriks bobot yangdinormalisasi. Berdasarkan urutan daftar pilihan proyek maka perbaikan ataupun perancangan kembali enterprise architecture dipilih.

  1. Pengambilan keputusan dan memilih antara memperbaiki arsitektur organisasi yang telah ada atau melakukan perancangan kembali arsitektur organisasi tersebut.
Berikut merupakan alat yang dikembangkan untuk melakukan analisis manfaat dengan mengimpelemtasikan metode-metode yang ada :

Tampilan untuk mempresentasikan hasil prioritisasi

Tampilan untuk menampilkan status proyek berdasarkan  “nearest neighborhood” network

Tampilan untuk menampilkan status proyek berdasarkan standar yang didapatkan dari pengumpulan data statistik

Tampilan untuk menampilkan proyek berdasarkan metode TOPSIS